[Book Review] 022 – Lokalpcy

Tag

, , , ,


“Nggak ada yang bener-bener tahu gimana caranya jadi dewasa, Ye. Masing-masing orang punya cara sendiri.”, ~ (hal. 81)

APA YANG MENANDAKAN KEDEWASAAN SESEORANG?

Menurut Faiq–vokalis band indie “Anchorbolt”, kalau kamu sudah pernah nonton film porno, kamu sudah bisa disebut dewasa 😁

Tapi novel ini bukan tentang Faiq, ini adalah kisah tentang Cakrawala (aka Ceye) dan Ladinia yang harus mempertanyakan kembali kedewasaan mereka saat berhadapan pada satu masalah –cinta. Simak dulu blurbnya ⏬⏬

Cakrawala. Dia diartikan sebagai lengkung langit tempat bintang-bintang bersandar.

Ladinia. Dia adalah bintang paling terang yang pernah bersandar pada cakrawala.

Cakrawala, drummer dari band indie Anchorbolt pertama kali bertemu Ladinia, reporter dari media musik bernama StageSnap, di belakang panggung saat gegap gempita reda. Meninggalkan kesan, tapi tak seberapa.

Lalu, Bandung mempertemukan sang drummer dan sang reporter dalam setiap gigs, menjadi penanda dimulainya tukar cerita tentang skema musik hingga idealisme hidup. Cerita demi cerita terekam di seluruh sudut kota kembang, menambah satu lagi hal manis yang bisa diingat dari kota berkode telepon 022. Semua tempat baik-baik saja, hingga salah satunya jatuh cinta dan salah satunya enggan percaya.

First impression saya setelah membaca novel ini. Pace ceritanya agak lambat, tapi tidak membosankan. Saya langsung tertarik untuk mengetahui cerita tentang Cakrawala alias Ceye sejak awal. Biasanya saya butuh beberapa part dulu untuk mengenal sebuah karakter dan menyukainya. Tapi khusus untuk Ceye ini, saya nggak pengen tahu dulu latar belakang dia kayak gimana. Saya cuma penasaran, what next? 🙈😁. Dan memang perjalanan Ceye berikutnya ini seru. Saya senyum-senyum sendiri saat dia pura-pura seolah bertemu secara kebetulan dengan Ladin. Padahal mah 😁😁

“Sesuatu yang berharga bukan datang secara kebetulan, tapi karena dipertahankan, diperjuangkan danl ada yang dikorbankan.”, ~ (hal. 79)

Ladin adalah cewek supel yang menyenangkan. Ia selalu berusaha “being nice” pada siapa saja tanpa mengharapkan balasan. Atau lebih tepatnya, ia tak mau berharap lebih karena takut dengan ekspektasinya sendiri. Melihat Ceye yang baik banget sama dia membuat Ladin takut dan mempertanyakan apa motivasi laki-laki itu. Ladin tidak buta, ia hanya insecure.

Ceye pernah gagal mempertahankan hubungannya. Hal ini membuatnya ragu untuk memulai yang baru. Selama ini ia mengandalkan hidupnya pada kebetulan. Siklus hidupnya yaitu mencari dan berharap, santai dan menikmati hidul, kemudian mencari dan berharap lagi. Lalu Ladin masuk ke circle-nya.

Sekilas, premis cerita 022 terasa sudah terlalu umum ya. Tapi tokoh-tokoh di novel begitu “hidup”. Tanpa penjelasan yang repetitif tentang deskripsi dan kepribadian mereka. Kita sudah dibikin akrab dengan Ceye, Ladin, Tara, Wira, Sean, Faiq, dll. Latar kota Bandungnya yang romantis dieksplore dengan cukup baik. Poin tambahan tentang kehidupan musisi di sana yang jadi profesi tokoh-tokohnya.

Saya suka dengan ritme ceritanya yang sebenarnya lambat banget. Tapi itu justru bikin sisi realistisnya lebih nonjol. Saya ikut terbawa dengan perjuangan Ceye mendekati Ladin sampai akhirnya “nembak” setelah hampir setahun. Dari yang awalnya cuman kebetulan –> penasaran –> kebetulan disertai sedikit usaha –> usaha –> usaha terang-terangan 😁. Seru deh pokoknya.

Sayangnya saya merasa percakapan mereka kayak kurang menggambarkan Bandung sih 🙈. Dialeknya full anak tongkrongan gitu. Kalau gak sebutin latarnya di Bandung, saya bisa aja menebak cerita ini bisa terjadi di mana saja. Mungkin kalau ada salah satu tokoh (figuran juga gak papa) yang pakai dialek sunda bakal lebih terasa “022”-nya.

But, overall is ok. Recommended
My Rating : 3 ⭐
Romance : 3 ❤

Keterangan Buku


Judul : 022
Penulis : Lokalpcy
Editor : Adelina Ayu Lestari

Editor Supervisi : Risma Megawati
Proofreader : Shafira Amanita
Desainer Sampul : Yulianti
ISBN : 9786024806767
Penerbit : Penerbit Clover (Imprint Penerbit M&C)
Tahun terbit : 2019
Format : 436 halaman Bookpaper
Harga : Rp. 99.000,-


[Book Review] Memoar Marla – Safira Hapsari

Tag

, , ,


“Jika masa SMA bisa berjalan damai dan tentram tanpa persaingan status sosial dan segala omong kosong yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, mungkin Marla tidak akan—“, ~ (hal. 14)

Di tahun terakhir Claudia di SMA–tepatnya di malam prom night, seorang siswi ditemukan tewas karena bunuh diri di toilet gymnasium. Membayangkan ada orang bunuh diri saja sudah membuatmu merinding, apalagi kalau kamu mengenalnya–temanmu 😿🙀🙀

“Semua Ini Salahmu”

Lima tahun berlalu, orang-orang mulai melanjutkan hidupnya, mengejar cita-cita. Claudia yang masih berusaha melupakan peristiwa itu tiba-tiba menerima surat kaleng yang mengingatkannya kembali pada Marla. Siapa yang mengirimkan surat itu? Apa Claudia memang ada hubungannya dengan kejadian itu?

First impression saya saat membaca buku ini adalah : pengen kecepatan baca secepat The Flash 🙈, supaya segera dapat jawabannya bagaimana persisnya kejadian lima tahun lalu itu. Saya juga penasaran sekali tentang alasan Marla bunuh diri.

Selain itu saya takjub dengan lay out isinya yang seperti kertas-kertas surat vintage gitu ☺😍. Selama tiga hari ke depan saya akan mengulas novel keren ini.

“Banyak orang bilang padaku tidak ada lelaki dan perempuan yang dapat berteman tanpa ada benih-benih cinta, dan aku biasanya membalas kalau semua itu omong kosong”, ~ (hal.36)

Jujur saja saya sedikit terdistraksi dengan cinta segitiga antara Kenzo-Marla-Alva ini 🙈, tapi dalam artian positif. Walau udah bisa menebak siapa yang bakal dipilih Claudia, eksekusinya tetap manis.

Yang tak bisa saya perkirakan adalah kebenaran dibalik “teror” yang diterima Claudia. Saya merasa ditipu habis-habisan. Karena jujur saja, “dia” tak masuk dalam daftar tersangka versi saya. Yang paling suka adalah, plot twistnya itu terasa masuk akal. Maksudnya gini, sepanjang buku saya sama sekali tidak menyadari clue yang ngarah ke sana. Tapi ketika kartunya dibuka, semuanya make sense. Penjelasannya bisa saya terima. ☺

Oh iya, dulu saya sempat bilang bahwa novel ini agak ngingetin saya novel “13 Reason Why”, dan emang ada beberapa karakter yang terasa agak mirip (seperti Samuel, Jessica dan Anggita). Tapi ya sebatas itu saja. Plot, alur, konfliknya benar-benar berbeda. Dan saya lebih menikmati membaca Memoar Marla ini. Bagi saya, 13 Reason Why terlalu Gloomy dan depresif dan Memoar Marla ini lebih berwarna (dan saya suka plot twistnya)

“Orang-orang mengatakan padaku untuk berhenti memikirkan itu, berhenti menyalahkan diri sendiri, aku harus melupakan semua itu dan berjalan maju dengan hidupku. Tetapi itu dia masalahnya. Aku dapat berjalan maju, aku masih hidup, sementara Marla tidak”, ~ (hal. 14)

Curiousity kill the cat. Kalau Claudia melaporkan surat-surat kaleng itu ke polisi sejak awal, dirinya tak akan terseret bahaya. Tapi Claudia penasaran dengan pengirimnya. Ia bahkan berkomunikasi dengan si peneror seolah itu benar-benar Marla. Atau mungkin saja Claudia merasa ia “pantas” mendapatkannya. Ups, hampir spoiler. Tapi memang di beberapa bagian saya sempat curiga pada Claudia 😁. Saya juga sempat meragukan reliabilitasnya sebagai narator, apalagi dia pernah konsultasi ke psikiater juga kan 🙈

Intinya, saya mau bilang kalau penulis jago banget bikin alur yang penuh teka-teki.

Saya juga suka dengan bagaimana penulis menggambarkan karakter-karakternya. Alva, misalnya, saya bisa langsung menebak kalau itu adalah dia dari dialognya saja. Kredit juga buat sang editor yang udah bikin novel ini jadi smooth banget. (Mungkin saya kurang teliti, tapi kayaknya saya gak nemu typo deh).

Namun kalau harus mencari kekurangan dari novel ini, saya merasa peran Ayah Claudia seolah nggak ada. Beliau cuma disebut sesekali 🙈. Terus saya juga agak terganggu dengan kata “personality” yang sempat beberapa kali direpetisi dalam paragraf yang berdekatan.

Tapi secara keseluruhan, novel ini keren dan recommended banget.

My Rating : 4.5/5 ⭐
Puzzle Level : 4/5 🗝

Keterangan Buku
Judul : Memoar Marla, Surat-Surat dari Perempuan yang Sudah Matu
Penulis : Safira Hapsari
Editor : Dion Sagirang
Penata Letak : Debora Melina
Desainer Sampul : Sukutangan
ISBN : 9786230009334
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 2019
Format : 395 halaman Bookpaper
Harga : Rp. 90.000,-

[Book Review] Te O Toriatte – Akmal Nasery Basral

Tag

, , ,


“Bahagia adalah cara kita beradaptasi menghadapi masalah, memeluknya dengan ramah, dan mencari jalan keluarnya tanpa menyerah”, ~ (hal.136)

Dulu, ada seorang teman saya yang sangat “sensitif” terhadap getaran. Gempa dalam skala sekecil apapun bisa membuatnya panik dan histeris. Ternyata saat terjadi gempa besar di Padang, dia terjebak di lantai tiga sebuah mall dan hal itu membuatnya trauma sampai sekarang.

Saat membaca blurb novel Te O Toriatte, saya sudah bergidik membayangkan bagaimana perjuangan Meutia–tokoh utama di novel ini untuk bangkit dari trauma akibat musibah beruntun yang dialaminya. Meutia Ahmad Sulaiman masih berusia 14 tahun saat tsunami Aceh menewaskan kedua orang tua dan ketiga adiknya. Mutia kemudian diangkat anak oleh suami istri berkebangsaan Jepang, Hiroshi dan Harumi.

Namun, saat Meutia mulai merasakan kehangatan keluarga, triple disaster melanda Jepang (gempa, tsunami dan kebocoran reaktor nuklir). Kedua orang tua angkat Meutia tewas dalam peristiwa itu.

Bersama PTSD yang tak mungkin sembuh, Meutia tetap berhasil mewujudkan mimpinya menjadi doktor computer Engineering. Meutia yang berparas cantik dan jelita juga dihadapkan pada pilihan sulit di antara tiga laki-laki yang mencintainya : pakar genom ternama berkebangsaan Jepang, Penyiar TV yang merupakan cinta pertamanya, serta seorang psikiater yang mengidolakan Meutia sejak lama. Sayangnya, kondisi kejiwaannya yang unstable membuat Meutia ragu ketiga laki-laki itu (atau laki-laki manapun) mampu menerima dia apa adanya.

First impression saya setelah membaca novel ini : pak @akmalbasral adalah story teller yang luar biasa. Saya tak pernah terlalu “mementingkan” diksi yang dipilih penulis dalam sastra populer. Tapi, pilihan kata-kata yang ditulis Pak Akmal benar-benar terasa berbeda–dan saya menikmatinya. Saya mengerti sekarang kenapa banyak kritikus “ngeyel” banget tentang hal ini. Ternyata memang kalimat-kalimat nyastra yang indah itu memberikan pengalaman membaca yang berbeda.

“Kita tak boleh takut kepada yang sudah meninggal dunia, Mayutiya. Yang lebih menakutkan bagi kita adalah mereka yang masih hidup, sebab hanya yang masih hidup yang bisa berbuat jahat,” ~ (hal. 133)

Novel Teo Toriatte (Genggam Cinta) ini adalah buku pertama yang saya tamatkan di tahun 2020. Novel ini berhasil meng-enhance minat baca di tahun baru ini karena contentnya yang sangat “kaya”.

Saat membaca blurbnya pertama kali, saya tak berekspektasi terlalu tinggi. Saya justru agak “segan” membacanya karena berpikir novel tentang bencana alam itu pasti bakal bikin mewek. Dan memang banyak banget part-part di novel ini yang membuat dada saya sesak. Tapi cerita Teo Toriatte ini sangat dinamis, ada romance yang bikin gemas dan terharu, ada bagian thriller yang bikin adrenalin saya terpacu dan ada teka-teki yang bikin saya gak bisa berhenti baca. Lalu begitu rahasianya terungkap saya terkaget-kaget. Karena saya sempat mendukung si A untuk menjadi pendamping Meutia. (Padahal kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya penulis sudah memberi clue kalau ada yang salah sejak awal 🙈).

Ada banyak sekali isu yang disisipkan penulis ke dalam cerita ini : mental illness (yang jadi concern utamanya), perjalanan spiritual, sains (yang disertai dengan sumber relevan), feminisme, lingkungan dll. Hebatnya, semua hal itu memang mendukung cerita dan disinggung dengan porsi yang pas. Jadi tidak serta merta dijejalkan begitu saja.

Kalau harus mencari kekurangannya, mungkin cuma soal pekerjaan Meutia di Jakarta. Saya masih kurang ngeh tentang apa saja yang dikerjakan Meutia dan timnya (yang kayaknya jarang banget disebut) selain pembahasan di awal tentang koreksi data BMKG itu. Dia sangat sibuk sampai-sampai tak mau menghubungi teman-temannya. Tapi masih sempat melakukan wawancara dan (ternyata) melakukan beberapa sesi temu kangen 🙈. (Not a big deal. Bisa jadi saya kurang teliti)

Pokoknya, novel ini sangat saya rekomendasikan kepada seluruh teman-teman booklover, dengan syarat kamu sudah berusia minimal 17 tahun. Karena beberapa hal di novel ini hanya relevan untuk pembaca dewasa.

My Rating : 4.5 ⭐
Romance : 4.5 ❤ (not your tipycal romance story)
Sensualitas : 3.5 💋 (cukup banyak detail eksplisit)

KETERANGAN BUKU

Judul : Aster: Teo Toriatte (Genggam Cinta)
Penulis : @
Editor : Dwi Ratih Ramadhany
Penyelaras Akhir : Wienny Siska
Desainer Sampul : Bella Ansori
ISBN : 9786020634357
Penerbit : @bukugpu
Tahun terbit : 2019
Format : 328 halaman Bookpaper
Harga : Rp. 86.000,-

[Book Review] Kami (Bukan) Jongos Berdasi – J.S. Khairen

Tag

, ,


kutipan jongos 3

Blurb

Alumni Kampus UDEL kini telah lulus. Masuk ke dunia nyata yang penuh tikus. Ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.

Kerja di Bank EEK? Ada. Kerjanya pindah terus? Ada. Bimbang ikut keinginan orangtua atau ikut kata hati? Ada. Apa lagi pengangguran banyak acara, pasti ada. Namun, diam-diam ada juga yang karirnya lancar, gajinya mekar, dan jodohnya gempar menggelegar.

Mendapat intimidasi dari rekan kerja, lingkungan, dan keluarga itu sudah biasa. Mendapat cemoohan bagi yang ingin berkarya, jelas jauh lebih biasa. Menerima perlakuan semena-mena, hingga tertawaan dan hinaan adalah sarapan pagi.

Akankah mereka bertahan di dunia yang penuh intrik ini? Atau mereka harus jadi jongos berdasi, pura-pura mampu beradaptasi, dengan tantangan dunia yang terus gonta-ganti?

Buku ini wajib dibaca oleh pelajar SMA, mahasiswa, para orangtua, karyawan, petinggi perusahaan, para pencari kerja, mereka yang ingin berkarya, para pengambil kebijakan di berbagai institusi, hingga Presiden Korea Utara agar kita bisa memutuskan apakah besok libur atau kerja dan berkarya.

Buku kedua dari serial novel “KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS.”

——-

“Tak apa rasa lelah hingga ke tulang.
Untuk tempat yang kita sebut pulang.
Hidup ini memang soal tualang.
Bukan soal siapa kalah siapa menang.”

Keteranngan Buku

jongos coverJudul : Kami (Bukan) Jongos Berdasi

Penulis : J.S. Khairen

Editor : MB Winata

Penyelaras Aksara : Sein Arlo

Penata Letak : Nunu

Penyelaras Tata Letak : Bayu N. L.

Desainer Sampul : @arcahyadi

Penyelaras Desain Sampul : Raden Monic

ISBN : 9786022202882

Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta

Tahun terbit : 2019 (cet. 1)

Format : vi + 414 halaman Bookpaper

Harga : Rp. 99.000,-

The Story

“Ini kehidupan nyata, bukan kisah fiksi ketika pahlawan pasti bisa mengalahkan penjahat. Bukan kisah inspiratif kerja keras yang selalu digaung-gaungkan motivator. Bukan rumus sederhana bahwa sukses adalah jalan lurus. Bukan kata-kata penyemangat daei orang yang telah dahulu memulai, bahwa segala sesuatu yang betul-betul kita inginkan akan dapat tercapai jika kita berjuang tak kenal lelah. Itu semua, tak benar-benar berlaku bagi kelompok Ogi”, ~ (hal. 384)

kutipan jongos 2

Ya, sekuel dari novel “Kami (Bukan) Sarjana Kertas” ini memang menceritakan kehidupan anggota kelompok Ogi pasca keluar dari kampus UDEL. Yang sudah membaca novel pertamanya pasti masih ingat dengan apa saja yang dihadapi ke-enam mahasiswa “buangan” ini saat masih berstatus sebagai mahasiswa UDEL. Yang belum baca buku pertamanya tetap masih bias mengikuti kisah mereka kok. Tapi dijamin kamu bakal penasaran banget tentang apa yang terjadi di buku pertamanya. Contohnya saya sendiri yang langsung membaca petualangan Ogi dan kawan-kawan di buku ini. Tetap bias masuk ke ceritanya. Tapi saya penasaran banget sama insiden-insiden di prekuel yang banyak disinggung di buku ini. Seperi peristiwa seisap dua isap itu, insiden Ogi, Kampus UDEL vs Dosen Sugiono dan lain-lain.

Berikut garis besar cerita mereka :

  • Sania, yang tak kerasan di tempat kerja pertamanya, dipecat di tempat kerja ke dua dan harus merelakan impiannya menjadi seorang penyanyi terkenal. Tapi berbagai peristiwa ini membawanya pada pemahaman baru dan kesempatan-kesempatan yang lebih luas. Sebagai tokoh yang pertama kali di perkenankan, Sania paling terasa perkembangan karakternya.
  • Juwisa, Si Ubin Mesjid yang gigih banget memperjuangkan impiannya untuk kuliah S2 ke luar negeri. Jatuh bangun ia tetap bertahan. Sampai sebuah tragedi benar-benar membuatnya menyerah.
  •  Lira, Mantan dosen Ogi cs sekaligus putri dari dari pemilik Kampus UDEL. Penutupan kampus UDEL menimbulkan masalah besar dalam keluarga Lira. Ia juga masih harus mengalami dilema tentang mimpi-mimpinya.
  •  Randi, yang mengawali karirnya sebagai wartawan penulis berita clickbait. Meskipun nasibnya terbilang mujur dalam karir, tapi ia selalu bermasalah dalam percintaan.
  •  Gala, pewaris dari seorang konglomerat. Gala harus menyesuaikan impiannya sendiri dengan tanggung jawabnya sebagai penerus keluarga.
  •  Arko, sudah melanglang buana ke berbgai benua sebagai fotografer lepas. Tapi skripsiya belum selesai, padahal kampus UDEL belum ditutup. Ia juga masih belum bisa “membantu” keluarganya.
  •  Ogi, mahasiswa UDEL yang DO tapi sekarang sukses di Silicon Valley. Ogi punya mimpi yang lebih besar yang akan berhubungan dengan teman-temannya.

My Review

Membaca babak demi babak dalam novel ini seperti berkaca pada kehidupan sendiri. Semua aspek kehidupan yang dibahas bener-bener relate dengan yang kita alamin : kerja keras bagai kuda tapi atasan masih seenaknya, desak-desakan di kereta, pengen penjajakan (baca pacaran) untuk persiapan menuju hubungan yang serius-tapi gagal melulu, belum bisa kasih duit ke orang tua, baper-baperan dll. Aduh… pokoknya senyum-senyum sendiri (bahkan ngakak) baca novel ini. Tapi pada bagian tertentu, saya juga harus menguatkan diri biar gak ikut nangis.

jongos

Meskipun tokoh utamanya banyak, tapi porsi cerita untuk masing-masingnya cukup adil. Memang ada beberapa tokoh yang perannya lebih banyak, tapi itu masuk akal karena konflik yang dihadapinya juga lebih rumit.

Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah gaya berceritanya yang ajigjaww. Kadang-kadang sarkas, tapi lebih banyak bijaknya. Banyak banget kutipan-kutipan yang nngena banget di sepanjang buku- di luar kutipan khusus di perbatasan antar bab. Novel saya jadi warna-warni, soalnya tiap nemu kutipan bagus saya tandain pakai stabile. Masalahnya hamper di tiap halaman ada :D. Selain itu penulis juga suka menggunakan kata-kata yang kurang popular, yang justru bikin ceritanya jadi lebih hidup. Misalnya kantau, ajigjaww dll.

Sayangnya saya masih nemu salah ketik di beberapa halaman (Paling parah salah ketik nama sih). Misalnya di halaman 131, ada beberapa kali “Mbak Agnes” ditulis “Mbak Lina”. Padahal konteksnya ini Si Sania lagi ngomong sama staff HRD bernama Mbak Agnes. Sementara Lina adalah rekan kerja Sania yang tidak ada dalam kejadian ini (dan tidak pernah dipanggil mbak juga ). Tapi itu aja kok, editing lainnya udah smooth banget. Semoga bisa diperbaiki pada cetakan berikutnya.

Overall saya sangat menyukai novel ini dan saya pasti akan rekomendasikan ke siapa saja. 4 Bintang dari saya untuk keseluruhannya.

Intermezzo

Mungkin karena sebelumnya keseringan membaca novel romance, saya jadi suka menebak-nebak tokoh ini bakal jadian sama siapa. Penulisnya juga usil banget nampilin adegan yang bikin saya menduga-duga. Yang paling menarik itu emang kisah asmaranya si Randi. Dan saya dikasih epilog yang nampilin satu babak kehidupan Randi setelah menikah dan punya anak. Tapi tetap tidak disebutkan siapa istrinya. Penasaran banget XD. Sebenarnya, saya bisa menebak siapa perempuan itu dari nama anaknya. Tapi ada narasi lain yang menggambarkan wanita satunya. Bingung kan! Dasar aku, malah ginian yang dibahas.

Ini bonus satu kutipan lagi buat kalian

kutipan jongos

 

Gramedia Go : Inovasi Terbaru Gramedia Yang Membawa Keadilan Bagi Booklover di Seluruh Indonesia

Tag

, ,


“Perhaps that is the best way to say it: printed books are magical, and real bookshops keep that magic alive.”
Jen Campbell

gramediago4

Launching Gramedia Go Bersama Book Blogger dan Booktuber

Bumi berputar, kehidupan berjalan dan segala sesuatunya berubah menyesuaikan diri. Sebagai mahluk yang berada pada kasta tertinggi dalam rantai makanan, manusia harus beradaptasi dengan perubahan itu. Dan biar tetap survived, saya juga akan berusaha untuk mengimbanginya semua perubahan itu. Semuanya kecuali … digitalisasi buku. Saya bukannya anti banget dengan buku elektronik, saya juga berlangganan Gramedia Digital kok dan sesekali membeli ebook di Play Store. Tapi memiliki printed books adalah kebahagiaan tersendiri. Jadi sampai kapanpun, toko buku fisik tetap merupakan surga dunia bagi saya. Dan bicara soal toko buku, saya cuma kebayang nama Gramedia.

Dulu untuk mencapai Gramedia, saya harus berangkat ke Ibu Kota Propinsi yang jaraknya sekitar tiga setengah jam perjalanan dengan bis. Tentu saja mengunjungi Gramedia adalah sebuah kemewahan yang tak bisa rutin saya nikmati. Hikmahnya, saya jadi punya cukup waktu untuk menyisihkan uang saku untuk membeli buku yang saya inginkan. Tapi, tentu saja tidak semua keinginan saya tercapai. Seringkali buku yang saya inginkan habis atau belum ada stocknya di Toko. Itu berarti saya harus menunggu sampai bulan berikutnya biar bisa ke Gramedia lagi.

Sedih nggak sih?

Zaman sekarang mungkin drama kayak gini nggak akan terjadi lagi. Soalnya sudah banyak banget toko buku online yang tinggal di klik dari rumah. Bahkan sudah tersedia fasilitas Pre order dari penerbit dan penulis kesayangan. Tapi, saya tetap lebih memilih mengunjungi Gramedia langsung. (Book lover pasti ngerti gimana rasanya berada di antara rak-rak penuh buku baru). Yah walaupun untuk daerah saya, harga bukunya lebih mahal dari Pulau Jawa :(. Wajar sebenarnya, karena distribusi buku ke Gramedia di daerah butuh waktu dan biaya lebih banyak.

Namun sesayang-sayangnya saya sama Gramedia, tetap keki juga kan kalau udah datang jauh-jauh ke sana tapi buku incaran kita belum nyampe. Pas minggu depan balik lagi, stocknya malah abis. Kalau udah kayak gini mau nyalahin siapa? salah mbak-mbak yang jaga Gramednya? Salah presiden? Salah gue? Salah tem–teman-teman gue?

gramediago logo

Saya gak pernah nyangka kalau ternyata hal ini juga sudah dipikirkan pihak Gramedia sejak lama. Dan kemarin, tanggal 14 Oktober 2019, saya berkesempatan menghadiri Mini Launching Gramedia Go di Gramedia Pondok Indah Mall. Gramedia Go adalah inovasi terbaru yang akan menyelesaikan masalah-masalah kita di atas.

Mengenal Gramedia Go

Gramedia Go adalah inovasi terbaru hasil kerja sama Toko Buku Gramedia dengan Gramedia Digital Nusantara. Layanan ini menggabungkan  kenyamanan belanja di toko fisik Gramedia dengan kemudahan belanja di situs Gramedia.com. Ilustrasinya begini, kamu ke toko Gramedia terdekat untuk membeli buku incaranmu, sekalian cuci mata. Kalau misalnya buku yang kamu cari nggak ada stocknya di outlet itu, kamu bisa manfaatin fasilitas Gramedia Go.

Nanti akan ada petugas yang membantumu memesankan judul yang kamu cari via Gramedia.com dan bukunya akan langsung dikirimkan. Jadi kedatangan kamu ke Gramedia gak sia-sia. (Sebenarnya kunjungan ke toko buku gak pernah sia-sia juga ya 😀) Dan berita bagusnya, harga yang dibandrol bakalan SAMA SE-INDONESIA. Jadi nggak ada lagi ketidakadilan bagi booklover di luar Pulau Jawa.

Saat ini ada dua layanan yang disediakan Gramedia Go (dan masih akan berkembang ke depannya) :

  •  Order From Store. Ilustrasinya seperti yang kujelaskan pada paragraf sebelum ini. Saat kamu nggak menemukan buku yang kamu cari di outlet. Petugas Gramedia Go akan membantumu memesan buku tersebut via Gramedia.com dan kamu bisa melakukan pembayaran di toko. Saat ini ada promo potongan ongkis kirim sampai 10.000 rupiah loh. Aku dan beberapa teman bookstagram sudah ada yang mencooba fitur ini kemarin dan ada  beberapa orang yang pesanannya sudah sampai. Layanan ini sudah tersedia di seluruh Gramedia di Indonesia.

  •  Pick Up In Store. Ini khusus buat kamu yang udah pesan via Gramedia.com (atau pesan di outlet via Gramedia Go) tapi masih mau mangkas ongkos kirim. Kamu bisa jemput bukunya ke Store terdekat. Tapi untuk saat ini, layanan ini baru diuji coba di Gramedia Matraman. Sabar ya :), manfaatin promo potongan ongkir aja dulu. Cuma sampai tanggal 31 Oktober ini loh. Dan siapa tahu, setelah promo free ongkir berakhir, layanan Pick Up In Store bisa segera menjangkau semua outlet Gramedia.

Tutorial Menggunakan Layanan Gramedia Go

Bener kan? inovasi Gramedia ini menguntungkan banget. Terutama buat teman-teman dari luar Pulau Jawa. Kalau masih bingung, nih aku kasih tutorial menggunakan layanan Gramedia Go :

gramedia go12

Mencoba fitur Gramedia Go

  1. Kunjungi Gramedia terdekat. Kalau lagi gabut, gakk masalah juga mampir ke gramedia di kota sebelah.
  2. Cari dulu yang kamu cari di tokonya. Kalau malas muter-muter, bisa manfaatin komputer yang tersedia di setiap sudutnya.
  3. Kalau emang stocknya masih nggak ada, baru deh cari mas/mbak yang bertugas menjalankan Gramedi Go. Ada ciri khasnya kok, mereka pakai efron Oranye kayak di foto ini nih :
  4.  Ikuti instruksi yang diberikan petugasnya
  5.  Lalu pilih metode pembayaran yang kamu mau. Bisa cash, debit dan lainnya.
  6.  Minta struk pembayaran sebagai bukti transaksi kamu berhasil. Ingat, minta struknya aja ya. Nomor mbaknya jangan ikut diminta. Jangan Ganjen!!
  7.  Kalau udah selesai, silahkan pulang dan tunggu bukunya datang sambal rebahan.