[Review] Rumah Kremasi

Tag

,


Blurb

Manusia laci menjelaskan padaku bahwa semua orang melempar kabar dengan menulis di pikiran mereka masing-masing. Mereka yang barbar dan berdarah dingin akan berlomba-lomba menulis dan membaca pikiran orang-orang yang tersebar di seluruh penjuru gelombang pada udara. Mereka melakukannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pribadi agar merasa ada. — Tezcatlipoca

Sementara api? Dia menjalar, mengelilingi kita, tapi membiarkan orang menyaksikan saat-saat terakhir di tengah kobaran zatnya. Kusen langit-langit rumah berjatuhan, pintu kayu rusak, gorden terbakar, sofa dan karpet seperti daun meranggas, dan semua yang ada di hadapanmu bermetamorfosis. Namun, api tetap tenang di sekitar, tak menyentuhmu hingga kau tak bisa lagi menikmati apa-apa. Tahu-tahu, kau sudah mati. — Rumah Kremasi

***

Kumpulan Cerpen ini berisi sepilihan cerita pendek karya Ayu Welirang dari tahun 2012 hingga 2018 yang dikumpulkan dari berbagai media. Bercerita tentang hidup, mati, dan apa yang tidak pernah benar-benar ada dalam isi kepala manusia. Menjurus pada black comedy, hal-hal tabu, dan kematian yang jarang diperbincangkan.

Keterangan Buku

Judul : Rumah Kremasi, Kumpulan Cerita Pendek

Penulis : Ayu Welirang

Editor : Kalen

Perancang Sampul : Sukutangan

Penata Letak : Kalen

ISBN : 9786025304910

Penerbit : CV. Maneno Books

Tahun terbit : 2018 (cet. 1)

Format : 122 halaman Bookpaper

Harga : Rp. 51.000,-

My Opinion

Berbeda dengan novel atau prosa panjang lainnya, cerpen bisa diselesaikan dalam beberapa menit saja. Biasanya, cerpen hanya mengtengahkan satu konflik dalam sebagian kecil fase hidup tokohnya. Meskipun demikian, cerpen tak selalu “dangkal”. Adakalanya pembaca justru merenung lama setelah membaca fiksi singkat ini. Misalnya saja cerpen-cerpen yang ditulis Ayu Welirang dalam buku ini.

Sebagian besar cerpen yang ditulis Ayu dalam ini bermain-main dalam genre black comedy. Aura surealis sekaligus sarkasme-nya membuat saya “dipaksa” berpikir tentang isu-isu kemanusiaan yang diangkatnya. Saya juga terkesia dengan pilihan kata-kata yang digunakan Ayu, bahkan ada beberapa bagian yang sama sekali asing buat saya.

Ada sepuluh cerita dalam buku ini.

1. Dongeng Mbah.

Bercerita tentang aku dan sepupu-sepupunya yang selalu didongengi oleh Mbah Putri saat pulang kampung di hari raya. Malam itu mbah bercerita tentang legenda perempuan yang meminta tulang babi ngepet.

Cerpen ini menjadi pembuka yang menarik. Saya bisa langsung membayangkan suasana saat mbah putri bercerita. Sederhana, tapi amanatnya sampai. Sebuah twist di ending membuat saya tak sabar membaca kisah berikutnya.

2. Tezcatlipocca

Bercerita tentang “aku” yang dikunjungi oleh pewarta dari masa depan yang keluar lewat laci dari meja riasnya. Mau tak mau saya jadi ingat doraemon 😂. Tapi si manusia laci ini sama sekali tidak lucu seperti doraemon.

Alih-alih dia malah memberi kabar buruk tentang apa yang akan terjadi di abad 22. Mengapa si manusia laci justru mengunjungi “aku”?

3. Migdal Bavel

Merupakan retelling dari pembangunan Migdal Bavel (Menara Babel). Konon, menara tertinggi yang pernah ada di bumi ini merupakan lambang kesombongan manusia.

Seperti sebuah dongeng yang diceritakan oleh kawan lama, Ayu berhasil memberikan warna baru pada kisah kaum Aad ini. Meskipun seluruhnya diceritakan lewat narasi, tanpa dialog satu pun.

“Aku lebih baik dikekang di neraka sana, tapi berhak memiliki diriku sendiri”, ~ (hal. 42)

4. Sembunyi di Tepi Jendela Lantai Dua

Salah satu cerita dengan tingkat surealitas tinggi. Tapi di balik keabsurd-annya terkandung sindiran sosial yang tepat sasaran.

5. Jika Masih Ada Kedai Yang Buka

Bercerita tentang “aku” yang minum kopi sendirian, menunggu kekasih brengseknya yang tak datang-datang sampai jam satu pagi. Di tengah rasa kedal dan malu, “aku” bertemu dengan laki-laki eksentrik yang mengajaknya bercerita tentang kematian. Jati diri si lelaki asing sebenarnya cukup mengejutkan.

“Bagaimana harus menjalani kehidupan untuk menebus dosa di kubangan dosa?” ~ (hal. 72)

6. Dosa Asali

Mengangkat tema yang cukup sensitif tentang konsep dosa turunan. Tapi ide soal siklus kehidupannya sangat menarik dan sekali lagi sindirannya sangat menyentil 😁

7. Sebab Televisi Berbingkai Bangkai

Jujur saya cukup bingung dengan cerpen yang ini. Siapakah “kau” yang dimaksud aku? Apakah seorang selebritis? Tapi yang jelas (lagi-lagi) kritik sosialnya tersampaikan dengan hebat.

8. Rumah Kremasi

Cerpen terpanjang sekaligus menjadi judul buku ini. Bercerita tentang sebuah grup diskusi yang membahas cara-cara paling keren untuk mati. Grup bernama rumah kremasi ini rutin mengadakan pertemuan setiap minggu. Bersama-sama mereka menertawakan “kematian”. Ada twist juga di endingnya 😆

“Manusia memang seperti B, tapi jangan sekali-sekali pakai kata B kalau dianggap B saja masih marah”, ~ (hal. 104)

9. Seperti B, Tidak ada B

Bercerita tentang dewan hewan dari dimensi lain yang tak terima namanya digunakan sebagai makian oleh manusia. Suatu hari, hewan dengan nama yang mengandung huruf B melakukan balas dendam pada manusia yang seenaknya saja mencatut namanya.

Balas dendam yang kejam dan gore ini berhasil membuat kata B hilang dari kamus permakian manusia 😁. Cerita yang paling bikin ngakak, meski bikin merinding juga. Tapi, lagi-lagi amanatnya tersampaikan dengan jelas.

10. Amy

Cerita paling realistis dalam antologi ini. Sekaligus penutup yang manis setelah sembilan cerita sebelumnya penuh dengan kritik sosial yang kentara.

Bercerita tentang pelukis sketsa yang bertemu dengan gadis buta di sebuah taman. Sang gadis berhasil memberikan inspirasi pada pelukis itu. Bisakah mereka bertemu kembali?

My Review

Meskipun bebas mulai membaca dari mana saja. Tapi saya termasuk pembaca konvensional yang selalu membaca dari awal. Termasuk untuk kumpulan cerpen. Karena itu proses kurasi cerpen itu sangat penting bagi saya. Jika menemukan satu kisah yang tidak menarik, saya bisa menghentikan membaca, lalu mulai lagi kapan-kapan.

Antologi karya Ayu Welirang ini disusun dengan tepat. Cerita pembukanya cukup cetar, lalu cerita-cerita berikutnya berhasil mempetahankan ritme membaca saya. Kemudian sampai di cerita terakhir yang berkesan 😆

Seperti halnya buku kumpulan cerpen, ada beberapa yang saya favoritkan, tapi tak ada yang tak saya suka. Semuanya menarik. Buku ini berhasil menjadi selingan yang menyenangkan setelah beberapa minggu ini bacaan saya didominasi oleh kisah-kisah romansa 😁. Sangat direkomendasikan.

Oh iya, lupa! Desain sampul yang dibikin oleh Sukutangan ini kece banget 😍😍

Buku ini saya ganjar dengan rating 3,75 🌟

[Book Tour] Giveaway Rain Sound + Pengumuman Pemenang

Tag

, , ,


Seperti janjiku tadi pagi, ada satu eks novel Rain Sound buat kamu yang beruntung.

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow blog ini. Bisa via wordpress, linkedin atau email.

3. Follow akun twitter @harovansi, @TWIGORA

Atau

Follow akun instagram @jurnalsibugot @twigora dan @vxcha

4. Share link giveaway di Twitter dengan hastag #BugotRainsound . Cukup tag aku saja

Atau

Share banner giveaway ini di instastories disertai hastag #BugotRainsound dan tag aku. Biarkan selama 24 jam. (Banner bisa dilihat pada feeds instagramku)

5. Tinggalkan data diri di kolom komentar di bawah berupa nama, akun twitter/instagram, dan kota tinggal.

6. Tinggalkan komen di ASK AUTHOR dan REVIEW.

GA #BugotRainSound ini berlangsung selama satu minggu ; 30 oktobee – 6 November 2018 Pemenang akan diumumkan tanggal 7 November 2018.

Akan ada SATU PEMENANG yang akan diundi menggunakan random.org untuk mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penerbitnya!

Pengumuman Pemenang

Terima kasih untuk antusiasmenya ya teman-teman 😄 Sesuai janji, hari ini aku akan mengumumkan satu orang yang beruntung mendapatkan novel ini. Alhamdulillah, ada 20 orang teman yang ikut meramaikan #BugitRainsound. Aku sudah memberi nomor urut berdasarkan urutan komentar, lalu diundi memggunakan random.org (Aku harap pengundian ini cukup adil 😊)

Ok, ini kusertakan video pengundiannya ya :

Dan, yang beruntung adalah :

Nama : Ayatin Annisa

Ig : @aysandbook

Domisili : Solo

Selamat ya, silahkan kirim data dirimu ke DM instagram-ku dalam 2×24 jam ya. Untuk yang belum beruntung, jangan berkecil hati ya. Nantikan giveaway selanjutnya. (Saat ini juga berlangsung Giveaway berhadiah paket novel fantasi di instagramku 😆)

Sekali lagi terima kasih partisipasinya 🙌

[Book Tour] Review Rain Sound

Tag

, , ,


“Lo berantakan juga tetap cantik”, ~ (hal. 177)

Blurb:

Tahukah kamu, hujan turun karena awan tak sanggup lagi
menahan air yang membebaninya?
Begitu juga alasan orang menangis
karena tak sanggup lagi membendung emosi dan luka
yang menyesaki hatinya.

Aku tak mungkin bisa membenci hujan
karena hanya dia yang paling mengerti kesedihanku.
Hujan menemaniku saat menangisi kepergianmu.
Menyembunyikan air mataku di balik derasnya.

Ketika perlahan derainya berubah jadi rintik-rintik gerimis,
aku berjanji akan merelakanmu.
Aku menyangkal diri, tentu saja.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan begitu saja
orang yang pernah membuatku teramat bahagia?

Keterangan Buku

Judul : Rain Sound

Penulis : Vachaa

Editor : Prisca Primasari

Proofreader. : Rinandi Dinanta

ISBN : 9786025129087

Penerbit : Roro Raya Sejahtera

Tahun terbit : 2018 (cet. 1)

Format : 256 halaman Bookpaper

Harga : Rp. 73.000,-

My Opinion

“Kenapa hidup rumit gini, sih?” ~ (hal.215)

Suatu hari Gilang bertemu dengan gadis yang meringkuk ketakutan di kelas selepas hujan. Meskipun merasa aneh dengan ketakutan gadis tersebut terhadap suara hujan, Gilang tetap meminjamkan headphone miliknya. Esoknya, gadis bernama Pelangi selalu hadir di sekitar hidup Gilang. Mulai dari ruang UKS, basecamp rahasianya sampai cafe buku tempat ia sering nongkrong.

Dari beberapa pertemuan takdir itu, Gilang mulai tertarik pada kepribadian Pelangi yang ceria. Apalagi ternyata lingkar pertemanan mereka saling berhubungan. Mungkinkah Gilang yang secara melankolis sangat menyukai hujan itu bisa berakhir dengan Pelangi yang justru fobia terhadap hujan? Atau takdir punya rencana lain untuk mereka?

“Ngesot juga nggak pa-pa, kok, asal bareng Kak Gilang”, ~ (hal. 87)

***

Jujur saja, aku tak punya bayangan apa-apa tentang kisah di novel ini saat membaca blurbnya yang bikin penasaran. Saat membaca bab demi babnya pun aku masih sering terkecoh. Apalagi cukup banyak tokoh yang ditampilkan. Barulah menjelang bab-bab terakhir aku dikejutkan dengan kenyataannya 😭. Penulisnya piawai sekali meramu ceritanya. Dari yang tadinya bikin cekikikan, lalu mewek, terus dikasih yang manis-manis di endingnya 😆. Suka deh.

My Review

Cerita dan Plot : 🌟🌟🌟🌟

Pada sesi ask author kemarin, aku sempat bertanya kepada Vachaa “Apakah ending cerita ini sudah disiapkan sebelumnya, atau mengalir begitu saja saat ditulis di Wattpad?”

Pertanyaan tersebut muncul karena saat membaca bab-bab awalnya, aku sama sekali tak menduga kalau ceritanya bakal di bawa ke sana. Tapi setelah kulihat lagi, ternyata sejak awal penulisnya sudah memberikan banyak clue yang mengarah ke sana.

Ide ceritanya cukup orisinil dengan mengambil hujan sebagai bagian paling penting dalam konflik novel ini. Selain cerita tentang dua orang tokoh utamanya, ada banyak sub plot yang membuat ceritanya lebih kaya dan suasana SMAnya lebih kelihatan nyata.

Alurnya juga tersusun rapi dengan beberapa kilasan flashback yang kadarnya pas. Aku suka sekali dengan bab-babnya yang singkat. Hal ini membuat ritme ceritanya berjalan cepat, tapi tetap berhasil bikin baper pada beberapa bagian.

Karakter dan Penokohan : 🌟🌟🌟

Karakter-karakter remaja di novel ini membuatku throw back kembali ke masa beberapa tahun yang lalu, saat masih menggunakan seragam putih abu-abu. Aku puas karena penulisnya berhasil menggambarkan pelajar SMA yang aku “kenal”, sifat dan karakteristik mereka memang bisa kita temukan di dunia nyata.

Hanya saja, karena karakter yang dikenalkan cukup banyak. Beberapa di antaranya seolah menutup pesona karakter utamanya. Tapi ini memang sifatnya sangat subjektif sekali dan bukan masalah besar sebanarnya. Masalahnya cuma aku jadi pengen baca spin off tentang mereka juga 😂.

“Gue nggak nebar pesona. Pesona gue yang mancar sendiri”, ~ (hal.127)

Berikut ini beberapa tokoh penting dalam novel Rain Sound :

  • Pelangi. Gadis berusia 15 tahun yang ceria, humoris, blak-blakan, dan kadang-kadang suka memberikan rayuan yang garing dan cheesy (Tapi bikin aku ketawa) Pelangi punya fobia terhadap hujan
  • Gilang. Kakak kelas Pelangi yang cool dan menyukai hujan. Orangnya tenang dan bisa menguasai keadaan.
  • Nando. Sahabat Gilang yang playboy.
  • Devi. Sahabat Pelangi yang dipacari Nando
  • Dito. Tipikal second male lead dalam Drama Korea, ganteng dan baik hati, tapi pada akhirnya gak jadi sama siapa-siapa 😂 (percayalah ini bukan spoiler)
  • Natasha dan Ariko, teman-teman seangkatan Gilang yang selalu terlihat berdua ke mana-mana.

Selain mereka masih ada tokoh-tokoh lainnya, yang membuat cerita ini jadi makin emosional. Sebagiannya hanya muncul sekilas tapi tetap berperan penting.

Konflik dan Penyelesaian 🌟🌟🌟

Karena ada beberapa sub plot yang menjadi cabang ceritanya, jadi juga ada beberapa konflik sampingan yang membuat cerita ini jadi nggak flat. Misalnya kehadiran Dito dan Cindy, konflik yang dialami Devi atau hubungan antara Natasha dan Ariko.

Jika dihubungkan dengan konflik utamanya, masalah-masalah di atas memang tidak relevan. Tapi adanya sub plot ini membuat settingnya jadi lebih nyata. Bahwa Gilang dan Pelangi memang benar anak SMA.

Endingnya juga dieksekusi sampai selesai. Bahkan untuk semua masalah “sepele” di atas 😄.

Editing dan Packaging : 🌟🌟🌟🌟

Cover dan lay out isi novel-novel terbitan twigora memang tak pernah mengecewakan, termasuk novel ini. Aku suka desain sampulnya yang terkesan gloomy tapi romantis. Aku juga suka ilustrasi di dalamnya yang keren banget.

Dalam 256 halaman, aku sama sekali tidak menemukan typo ataupun salah ketik.

Final Rating : 3,5 🌟 ( Recommended)

Kadar romansa : 💓💓💓

Ada beberapa kutipan di novel ini yang jadi favoritku. Di antaranya :

  • “Cepat atau lambat semua orang pasti ninggalin kita. Karena pada akhirnya kita akan menempuh takdir yang kita pilih–sendirian”, ~ (hal. 58)
  • “Takdir itu kita yang nentuin, tapi kadang ada hal di dunia yang tidak dapat berubah, bagaimana pun kerasnya usaha kita”, ~ (hal. 59)
  • “Lo kehilangan orang yang nggak sayang sama lo, sedangkan dia kehilangan lo yang sayang sama dia. Dia yang rugi”, ~ (hal.156)
  • “Kadang, kita harus merelakan orang yang kita sayangi untuk bahagia–meski kebahagiaannya itu bukan kita, …”, ~ (hal.211)

Trivia

  • Pluviophobia atau ketakutan terhadap hujan seperti yang dialami Pelangi memang benar-benar ada loh. Pada kasus tertentu, penderitanya juga mengalami psikosomatis saat melihat atau mendengar suara hujan. Misalnya tiba-tiba sesak nafas atau mengalami diare.
  • Di novel ini, Gilang cs sering nongkrong di Butter Cafe yang mengusung book cafe. Cafe semacam ini lagi booming juga loh dan tentu aja surga banget buat pecinta buku kayak kita 😆

Photo Challenge

Salah satu hal yang unik dari rangkaian booktour Twigora adalah photo challenge yang diberkan pada host. Challenge kali ini adalah berpose seperti pada foto ini. (Wish that this isn’t disturbing enough 😂)

Jangan lupa ya, pada postingan berikutnya ada giveaway berhadiah novel ini untukmu dari aku dan Twigora. Stay tuned! Jangan lupa kunjungin book tour di blog host lainnya.

[Book Tour] Ask Author – Rain Sound

Tag

, ,


Sawadee-krab 🙌🙏

Senang sekali karena blog “Jurnal Si Bugot” sudah aktif lagi. Di penghujung oktober ini ada yang spesial loh. Yai, setelah sekian lama hampir hiatus, Blog ini bosa terlibat dalam acara Book Tour lagi. Selama tiga hari ke depan, aku akan berbagi keseruan soal novel terbaru dari Roro Raya Sejahtera loh. Jangan ketinggalan ya 😆. Karena di hari terakhir booktour nanti akan ada giveaway-nya.

Oke, di hari pertama ini. Kita kepoin penulisnya dulu ya. Tapi sebelum itu, nih aku kasih teaser novelnya dulu. Cekidot ⬇⬇⬇

PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL
RAIN SOUND
VACHAA
SC; 14 x 20 cm
Jumlah Halaman: 256 hlm
Bookpaper 55 gr;
ISBN 978-602-51290-8-7
Harga: Rp 73,000

Tagline:
Perempuan itu takut akan hujan.
Lelaki itu mencintai hujan.
Bersama takdir, hujan mampu menyatukan dua hati…
Juga memisahkan mereka

Blurb:

Tahukah kamu, hujan turun karena awan tak sanggup lagi
menahan air yang membebaninya?
Begitu juga alasan orang menangis
karena tak sanggup lagi membendung emosi dan luka
yang menyesaki hatinya.

Aku tak mungkin bisa membenci hujan
karena hanya dia yang paling mengerti kesedihanku.
Hujan menemaniku saat menangisi kepergianmu.
Menyembunyikan air mataku di balik derasnya.

Ketika perlahan derainya berubah jadi rintik-rintik gerimis,
aku berjanji akan merelakanmu.
Aku menyangkal diri, tentu saja.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan begitu saja
orang yang pernah membuatku teramat bahagia?

Interview With The Author

Novel Rain Sound ini seru banget. Bercerita tentang Pelangi yang jatuh cinta pada seniornya di sekolah, Gilang. Masalahnya, Si Gilang ini suka banget sama hujan, padahal Pelangi fobia hujan. Kira-kira hubungan mereka bakal berhasil gak ya? Selain Pelangi dan Gilang, tokoh-tokoh lainnya juga bikin gemas 😍. Ulasan lengkapnya bakal kuposting besok. Hari ini chit chat dulu sama penulisnya yang kece, Vachaa.

Langsung aja ya, ini hasil interviewku dengan Vachaa :
1. Hai Vachaa, aku baca Rainsound dan ngerasa kalau gambaran soal ketakutan Pelangi sama hujan itu kayak nyata banget. Ini terinspirasi dari teman yang memang punya fobia serupa ya?

Hai juga! Ketakutan Pelangi sama hujan itu murni imajinasiku sendiri, aku belum pernah ketemu sama orang yang takut hujan. Aku nulisnya sambil ngebayangin: gimana seandainya kalo ketemu laba-laba yang banyak? (aku takut laba-laba, anyway). Alhamdulillah kalo menurut Kak Gea penggambaraannya kayak nyata, terimakasih ya😂

Wah, Vachaa fobia laba-laba ya. Kalau aku lebih takut ular. (Gak ada yang nanya 😂)

2. Novel Rainsound kan sebelumnya tayang di wattpad dulu kan? Plotnya sudah dirancang sejak awal atau ngalir aja tiap post update-an baru?

Iya, pertama kali tayang di Wattpad aku sudah menentukan ending-nya kayak gimana biar teratur ceritanya mau dibawa kemana. Eaaa kayak lagu aja, mau dibawa kemana😆

Tuh baca, buat yang ngakunya pengen jadi penulis. Siapin endingnya dari awal, biar gak hilang arah dan tak tahu arah jalan pulang. Ngomong sama cermin.

3. Epilognya bikin aku gemes-gemes gimana gitu 😍😆. Ini ada rencana buat bikin sekuelnyakah? 😂

Aku juga ngeship mereka! Tapi nggak ada rencana bikin sekuel😂 Biarlah cerita mereka jadi milik mereka aja hehe.

Sunggguh teganya…teganya…😭

4. Selain Gilang dan Pelangi, aku juga jatuh cinta sama karakter-karakter lain di novel ini loh, kayak Natasha dan Ariko 😆. Ada rencana buat bikin kisah tentang mereka juga gak? (Jawabnya iya dong 😄)

Kalau cerita Natasha & Ariko ada banget rencana nulis cerita tentang mereka! Malahan ide tentang mereka ada lebih dulu dibanding Rain Sound. Tapi sampai sekarang masih mengendap di draft laptop, udah nggak pernah disentuh😭

Yess,,,ternyata bukan cuma aku yang suka mereka. Semangat Vachaa, ditunggu ya 😆 (pembaca resek 😁)

5. Biasanya kan di wattpad ada cast untuk masing-masing karakter tuh. Boleh tahu gak? Menurut Vachaa, siapa cast yang sangat menggambarkan Gilang dan Pelangi? (Aku boleh posting fantasy cast versiku juga kan?) 😁

Aku cuma ngebayangin Pelangi aja; Nabilah ex-JKT48. Dia cerianya dapet gitu sama Pelangi. Waah boleh dong ngepost tentang imaginary cast versi Kak Gea! Aku pengin tau😁

Setuju kalau Nabilah mah 😆. Fantasy cast versiku untuk tokoh Pelangi dan Gilang ini nih :

Nah itu kemarin hasil wawancaraku sama Vachaa. Vachaa ini orangnya ramah banget ternyata. Kalau kamu pengen tahu lebih banyak soal Vachaa, bisa kepoin akun media sosialnya ya.

PROFIL PENULIS

Vachaa, lahir di Makassar, tepat 70 tahun setelah Sumpah Pemuda. Seorang introvert. Suka menulis sejak SD. Bercita-cita menguasai banyak bahasa dan keliling dunia. Saat ini masih berstatus mahasiswi di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Rain Sound adalah novel pertamanya yang diterbitkan.
Vachaa dapat dihubungi melalui:
Wattpad: http://wattpad.com/user/vachaa
Instagram: vxcha
E-mail: viafacha@gmail.com

[Review] Rooftop Buddies

Tag

, ,


“Kalau kematian sudah pasti datang, kenapa tidak dipercepat saja?” ~ (hal.21)

Blurb
Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?
Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu.
Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk ke dunia kematian berdua, mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing… Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.

Keterangan Buku

Judul : Rooftop Buddies

Penulis : Honey Dee

Editor : Anastasia Aemilia

Ptoofreader. : Didiet Prihastuti

ISBN : 9786020388199

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018 (cet. 1)

Format : 264 halaman Paperback

My Review

“Yang kutahu setelah kematian mungkin nggak ada lagi beban.” ~ (hal. 102)

Ini bukan pertama kalinya aku membaca novel sicklit dengan tokoh utama yang menderita penyakit berat. Tapi di luar pakem novel-novel serupa–yang kadang terlalu berusaha menguras air mata pembacanya–novel young adult jebolan GWP ini lebih “bersahabat” dan memberi harapan. Meskipun konflik dan dramanya cukup berat, tapi novel ini tidak terjebak dalam menye-menye tak berkesudahan. Melalui tokoh Rie dan Bree, penulis berhasil menyampaikan pesannya.

Ceritanya disampaikan dari sudut pandang Rie. Bagaimana Rie mengemukakan pendapatnya membuatku berpikir, mungkin memang seperti ini yang dirasakan oleh para survivor. Selain menghadapi sesi kemotrapi yang menyiksa, mereka juga harus menyaksikan air mata dan tangis dari orang-orang yang disayanginya. Jadi ketika Rie akhirnya memilih menyerah, saya bisa memahaminya.

Tapi takdir tidak selalu sesuai dengan rencana. Sebelum melompat dari rooftop, Rie bertemu dengan Bree-cowok ganteng yang juga berniat bunuh diri. Dua orang yang sama-sama putus asa dan tidak percaya lagi pada kehidupan bertemu, kesamaan nasib itu membuat keduanya menjadi akrab. Lalu tiba-tiba terjadi perubahan rencana. Awalnya hanya sekedar tekad untuk menyelesaikan “utang” yang masih ada di dunia. Lalu dimulailah petualangan ala-ala road movie yang mengaduk-aduk emosiku. Apakah masih ada harapan untuk mereka?

“Benarkah kematian bisa menyembunyikan kita dari kehancuran?” ~ (hal. 132)

Sejak pertemuan Rie dan Bree, aku sudah penasaran dengan motif cowok itu ingin mengakhiri hidupnya. Teka-teki soal Brie ini dibuka sedikit demi sedikit pada halaman berikutnya. Meskipun hanya lewat narasi Rie, penulis tetap berhasil membuat saya merasakan tekanan yang dialami Bree😭.

Karakter dan Penokohan

  • Rie… Mirielle. Gadis 17 tahun yang menderita kanker. Karena penyakitnya, Rie harus menjalani homeschooling dan itu membuatnya tidak punya teman. Rie punya pikiran yang lebih dewasa dari umurnya.
  • Bree… Brian. Cowok ganteng yang ditemui Rie di atap. Menurut Rie, wajahnya hasil persilangan antra Hugh Jackman dan Zach Effron. Bree orang yang simpatik dan gentle, sulit dipercaya ia ingin bunuh diri.
  • Jojo. Adik laki-laki Rie yang aktif dan cerdas. Ia sangat menyayangi Rie. Meskipun tidak berperan banyak, Jojo punya andil dalam perubahan Rie.
  • Mona. The Devilish Babe. Sebenarnya aku agak terganggu dengan keberadaan antagonis yang jahatnya gak ketulungan kayak gini 😁. Tapi sepertinya, karakternya ini memang mendukung cerita.
  • Devon alias Bang Dev. Seorang survivor yang menciptakan Healty village, organisasi yang khusus menyemangati para survivor.

Selain mereka, masih banyak tokoh-tokoh lain yang berperan penting dalam cerita, walaupun sebagiannya hanya muncul sekilas. Seperti orang tua Rie dan Bree, teman-teman sekolah Rie waktu SMP, serta orang-orang dari Healty Village. Semuanya diceritakan dengan porsi yang sesuai.

“Bunuh diri itu perbuatan yang menyakiti diri sendiri. Tuhan melarang itu. Agama apapun pasti melarang itu”. ~ (hal. 194)

Konflik dan Ending

Konfliknya berlapis, tapi tidak lari ke mana-mana, tetap mengerucut pada isu kanker survive dan suicide yang diangkat. Penyelesaiannya juga tidak terburu-buru dan seperti yang saya tulis di awal, berbeda dengan novel sicklit kebanyakan. Tadinya saya sudah bersiap-siap kalau harus nyesek pas ending. Tapi di luar dugaan, buku ini ditutup dengan kalimat yang heartwarming.

Editing dan layout

Editingnya rapi dan saya hampir tidak menemukan typo. Saya juga suka layout isinya. Fontnya pas, tidak terlalu besar atau kekecilan.

Final Rate : 3,5 🌟

Di novel ini, juga banyak kutipan-kutipan-kutipan keren yang sayang banget kalau gak dishare 😆. Berikut di antaranya :

  • “Jangan memulai peperangan yang gak bisa kamu menangkan”, ~ (hal. 76)
  • “Kalau cowok berusaha peka katanya cengeng, kebanyakan drama. Kalau cowok nggak peka katanya nggak punya perasaan. Sebenarnya apa sih maunya cewek?” ~ (hal. 100)
  • “Kamu nggak bisa melakukan apapun kalau terus memilirkan pendapat orang lain. Kamu nggak bisa menyenangkan semua mata”, ~ (hal. 104)
  • “Jatuh cinta itu membuat orang lebih stres sebenarnya, tapi di sisi lain kebahagiaan karena dicintai dan diperhatikan menghasilkan perubahan hormon yang sangat bagus untuk tubuh”, ~ (hal. 249)

Trivia

  • Novel ini sebelumnya pernah tayang di website GWP dengan judul “Suicide Buddies”.
  • Kak Honey Dee, penulis novel ini juga pernah mendapat tumor yang sempat membuatnya putus asa 😭