Tag

, , , , , , ,


Resensi ditulis 30 januari 2011 di Blog lama

Judul                     : Reinkarnasi : Kisah Pergulatan Pemuda Titisan Ketujuh Melintasi Kekinian

Penulis                  : Sinta Yudisia

Jumlah Halaman    : 594

Penerbit                 : Lingkar Pena Publishing House (Mizan Group)

Tahun Terbit          : Agustusb 2009

Beberapa waktu lalu, saya membaca novel di perpustakaan. Novel karangan Sinta Yudisia itu bertajuk “kekuatan ketujuh”.

Ceritanya mengenai seorang pemuda yang diwarisi kekuatan ketujuh. Kehidupannya yang biasa sebagai pemulung mendadak berubah ketika berbagai kejadian membawanya pada Sentot, orang yang tahu banyak mengenai “kelebihan” yang justru ia tidak tahu. Dari Sentot, ia berhasil memakai kekuatan itu untuk mendatangkan keuntungan dan menjanjikan kehidupan yang lebih layak untuk ibu dan adiknya. Namun hal itu justru membawanya pada suatu kenyataan mengenai leluhur dan masa lalunya yang penuh magis dan berkaitan pada kekuatan supranatural. Pada akhirnya Age harus memilih memanfaatkan kekuatannya itu atau kembali hidup seperti biasa.
Ending dari novel itu masih mengundang tanda tanya bagi saya. Meskipun saat itu Age telah menentukan pilihannya. Tapi nasib tokoh-tokoh lainnya masih belum jelas.
Sampai akhirnya saya membaca resensi mengenai novel Reinkarnasi, karya Sinta Yudisia juga. Di sinopsisnya sekilas tercantum nama Ragil Mulyo (Age, tokoh utama dalam novel kekuatan ketujuh). Saya langsung tertarik membacanya. Dan memang ini pengembangan novel Kekuatan Ketujuh tersebut, di bab-bab awal saya sepertinya hanya mengulang membaca novel Kekuatan ketujuh, namun belum sampai setengah isi buku. Saya menemukan ending novel kekeuatan ketujuh pada salah satu bab. Selanjutnya bab berikutnya menyambung kejadian itu. Novel ini mengupas kekuatan ketujuh Age lebih dalam, juga asal usul kekuatan itu yang membawa pada legenda raja-raja mataram kuno. Tokoh-tokoh lainnya juga diceritakan dengan porsi yang lebih banyak. Juga pembahasan mengenai Galuh Anom, ibu kandung Age yang bertanggung jawab terhadap keanehan yang dimiliki Age.

Saya sangat bersimpati pada tokoh Age, tokoh yang ditakdirkan jahat di buku ini. Mengingat perjuangan hidupnya untuk tetap di jalan Tuhan bikin geram juga. Yah, pada akhirnya karakter yang berhasil sebagai penjahat terbaik adalah kanjeng Galuh Anom sendiri.

Untuk urusan detail nan epik, sinta yudisia memang sudah tidak diragukan lagi. Terbukti pada novelnya The Road To The Empire, tapi mungkin karna saya sudah sangat bersimpati pada tokoh age di awal-awal kisah membuat saya agak berat menerima nasibnya (eh, hampir spoiler :D).

Foreall, dibalik semua itu novel ini memang benar-benar mendebarkan dan sarat mahgis kejawen. Empat bintang untuk novel ini.