Tag

, , , ,


Judul                     : 17 Catatan Hati : Ummi – Ridha Ummi, Ridhanya Allah

Penulis                  : Asma Nadia

Penerbit                 : Republika

Tahun Terbit          : Januari 2012

Bila ada penulis yang tetap eksis selama belasan tahun dan tetap idealis untuk bertahan di tema-tema religi, Asma nadialah orangnya. Dan hampir semua bukunya selalu sukses di pasaran. Bisa dipastikan buku ini pun akan bernasip sama. Selama menyelesaikan tiga novel dalam buku ini, saya terbius oleh indahnya permainan kata Asma Nadia. Belum lagi, kutipan-kutipan manis yang selalu hadir di tiap bab pada novel pertama. (Ridha Ummi, ridhanya Allah).

Coba bayangkan, siapa yang gak melting coba baca kutipan-kutipan berikut ini :

“Dengan menatap lautan di matamu bisa kurasakan apakah aku berada di surga atau neraka.”

“Lebih banyak luka dibanding cinta pada hasrat yang tersesat”

“Menikah membuka banyak ruang kebahagiaan. Tetapi juga bisa menjadi penjara bagi banyak kesedihan”

“bahkan meski cinta sendiri yg datang menyapa, diperlukan banyak hal untk memaknainya”

Silahkan baca sendiri bukunya untuk baca lebih lanjut. Benar-benar deh si mbak yang satu ini.

Eh, pasti pada bingung karena tadi saya tulis tiga novel ya. Ehm, bukan Asma Nadia namanya kalu biasa-biasa saja. Buku ini berisikan tiga novel dan sepuluh cerita pendek bertemakan Ummi/Ibu.

Novel pertama (berjudul sama dengan judul buku) sebenarnya merupakan adaptasi dari film aditya Gumai berjudul “Ummi Aminah”. Tapi, bahkan meski sudah menonton filmnya. Membaca Novel ini tetap akan membuat anda terhanyut. Karena asma Nadia memang seorang Story teller yang luar biasa.

Seperti judulnya, novel ini berisikan bab-bab pendek berisikan catatan hati beberapa tokoh sentral (tapi bukan semacam catatan harian gitu, sudut pandangnya tetap sudut pandang orang ketiga). Melalui narasi Asma Nadia, kita jadi bisa ikut merasakan emosi masing-masing tokoh. Seperti abah yang tak bisa menyembunyikan sikap dinginnya terhadap Zidan yang sangat feminin. Tapi diam-diam abah selalu berdoa agar Zidan bisa jadi laki-laki jantan seperti abang-abangnya. Bahkan, meski ia tak sempat melihat hal itu terjadi. Juga kegalauan Zarika yang selalu terlibat dengan laki-laki yang salah.

Novel kedua berjudul “Cinta Dalam 99 Nama-Mu”, lebih singkat dari novel pertama. kisah berfokus pada dua tokoh central. Duan wanita yang nasibnya sangat berbeda, namun mereka sama-sama sedang dalam perjalanan menuju Tuhan.

“Lebaran di Rumah Abah” yang merupakan novel terakhir bercerita tentang keadaan seorang ayah sepeninggal istrinya. Bagaimana kematian sang istri membuatnya trauma, dan membuat hubungan dengan anak-anaknya merenggang.  Hingga suatu permasalahn yang membuat abah berhasil menghilangkan traumanya.

Selain tiga novel itu, masih ada sepuluh cerita pendek lagi bertema serupa yang ditulis Asma Nadia dalam rentang tahun 1995-2011. Sebagian besarnya sudah pernah saya baca, karena kebetulan saya punya banyak buku karangan Asma Nadia, termasuk beberapa antologi cerpen.

Buku manis ini sangat direkomendasikan untuk melepas dahaga kita akan kerinduan pada sosok bernama ibu. Cocok juga diberikan sebagai kado untuk ibunda tercinta. Lima bintang untuk novel ini.😀

Sumber gambar : Boleh.Cinema, Buku Kita