Tag

, , , , ,


Judul Buku : Vandaria Saga, Harta Vaeran

Penulis : Pratama Wirya

Ilustrator dan Perancang Sampul : Ecky Oesjady

Pencipta Hikayat : Ami Raditya

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama : 2011

Tebal : 525 halaman, paperback

ISBN : 978-979-22-7291-8

Tidak gampang bagi Karnthe Jahlnow menjadi putra dari seorang pemburu harta karun. Orang-orang di desanya sangat mengelu-elukan para ksatria (maksudnya bekerja sebagai prajurit di istana), dan tentu saja seorang pemburu harta karun tidak masuk hitungan sebagai ksatria. Sudah dapat diduga bila akhirnya Karnthe mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari para tetangganya. Terlebih ayahnya, Frank Jahlnow terkenal bermulut besar hingga dijuluki si angin kentut. Namun takdir Karnthe dimulai ketika tanpa sengaja ia menemukan lempengan batu misterius yang ditemukan ayahnya.

Siapa sangka lempengan itu merupakan petunjuk ke arah harta karun legendaris peninggalan seorang frameles (mahluk mirip manusia yang memiliki kemampuan alami untuk menggunakan sihir) nyentrik bernama Vaeran Irvannah. Namun cedera yang dialami Frank tidak memungkinkannya berburu dalam waktu lama. Setelah melewati keraguannya akhirnya Karnthe memutuskan untuk menggantikan ayahnya menemukan harta Vaeran.Petualangan Karnthe pun dimulai bersama salah seorang teman ayahnya, Saeliya Aerankah. Seorang penyihir tempur.

Dalam petualangan mereka, Karnthe dan Saeliya menemukan teman-teman baru. Mereka adalah Fukhoi-ri, pengumpul pengetahuan yang karena darah setengah framelessnya membuat hubungan yang agak dingin dengan Saelia pada awlnya;  Fukhoi-ri, teman lama Saelia yang berprofesi sebagai pengelabu mata dan Za’zestai Karin, pedagang pejuang yang pantang menyerah dan sedikit mata duitan. Dengan karakter dan keahlian masing-masing, Karnthe dan kawan-kawan melakukan petualangan yang tak akan pernah mereka lupakan di tanah Vandaria yang luas. 

Cerita dalam novel ini memenuhi segala hal yang membuat sebuah kisah fantasi adventure sangat menarik. Meski plotnya terasa agak melambat di bagian walnya. Tapi secara keseluruhan saya menyukai buku ini. Pada beberapa bab, saya merasa ikut terlibat dalam petualnag Karnthe dan kawan-kawan. Kekuatan utama dari buku ini memang ceritanya yang luar biasa. Penulis menggambarkan tiap kejadian dan tempat dengan sangat detail, sehingga membantu kita merasakan latarnya dengan lebih nyata. Apalagi perbedaan karakter diantara para tokohnya. Konflik internal diantara mereka juga membuat buku ini semakin menarik. Misalnya konflik antara Fukhoi-ri dan Saelia menyangkut jati diri mereka. Atau ketika Karnthe dan kawan-kawan mulai mencurigai Karin. Tokoh-tokoh lain yang hanya muncul sekilas juga sulit dilupakan. Saya juga menyukai editingnya, nyaris tidak ditemukan typo/salah ketik dalam buku setebal 517 halaman ini. Dan wow, bonus kartunya keren😀

Akan tetapi saya agak sedikit bingung, karena sama sekali tidak menemukan peta di dalamnya. Padahal kalau misalnya disisipkan peta, akan lebih gampang bagi pembaca untuk mengenali settingnya. Dan membuat petualangan jadi lebih hidup. Semoga pada cetakan berikutnya bisa ditambahkan. Hal lainnya yang sedikit mengganggu adalah gaya bahasanya yang terlalu fairy-tale. Mungkin karena buku ini memang ditujukan untuk semua umur. Tapi bagi saya hal ini sedikit mengurangi keasyikan membaca. Apalagi kata-kata seperti “Yang maha tahu memberi tahu kita….,” seperti yang dijelaskan yang maha tahu…“, atau “setelah kita menuju masa lalu, menuju saat Karnthe masih bocah cilik…(hal. 10)”. Kalimat-kalimat ini banyak sekali ditemukan pada narasi yang digunakan pengarang. Tidak masalah sebenarnya, hanya saja menurut saya akan lebih menarik bila bahasa yang digunakan sedikit lebih literer dan indah. Jadi bukan hanya iklim petualangannya yang terasa, tapi juga bisa memukau melalui narasinya.

Namun diluar keluhan saya tadi (yang sifatnya sangat subjektif), novel ini tetap direkomendasikan bagi pecinta kisah petualngan. Adegan yang paling saya kenang adalah saat Karnthe dan kawan-kawan berada di tempat jiwa Vaeran Irvaanah. Dimana mereka bertarung melawan naga emas dan lebih menyeramkan lagi mahluk-mahluk aneh yang merupakan jelmaan dari Jiwa Vaeran Irvaanah itu sendiri. Namun pertarungan singkat kata-kata Karnthe di bagian epilog benar-benar memorable bagi saya.

Dunia di luar sana tidak akan mempedulikan kesombongan dan kekeraskepalaanmu

Harta Vaeran merupakan buku pertama dari kisah Vandaria saga. Vandaria adalah galaksi fiktif rekaan anak muda Indonesia yang terealisasi dalam bentuk permainan kartu (Vandaria Wars), buku (Vandaria Saga), komik dan RPG (dalam proses). Layaknya sebuah dunia yang kompleks, di vandaria ada kebudayaan, kepercayaan dan kehidupan sendiri. Temukan lebih lanjut di websitenya, http://vandaria.com/. Hal ini juga untuk membantu kita mengetahui istilah-istilah dalam semsta Vandaria. Buku-buku vandaria sendiri sudah terbit empat buah. Meski berlatar sama, tapi tidak terlalu berkaitan. Akan tetapi, cerita mengenai kehidupan Vaeran Irvaanah bisa kita temukan dalam salah satu cerpen berjudul “Padamnya Bintang-Bintang Vaeran” dalam buku “Kritalisasi” yang juga sudah diterbitkan.