Tag

, , , ,


Judul             : Pengantin Surga
Pengubah     : Nizami Ganjavi
Penerjemah  : Ali Nur Rahman
Editor            : Salahuddien Gz
Cetakan        : Juli, 2012 (250 halaman)
Penerbit        : Dolphin

“Cintaku, betapa aku berharap kita bisa membangun mahligai bersama di dunia ini! Tetapi itu tidaklah mungkin. Mereka menolak penyatuan kita. Apakah itu kesalahanku? Hatiku, yang tak mampu membuatmu bahagia, menangis atas nasib sedih yang menimpa diri kita…..”(hal. 177)

Ada berjuta penduduk bumi saat ini, dan hampir semuanya pernah terjangkit virus merah jambu bernama cinta. Karna mungkin cinta itu sama tuanya dengan usia peradaban manusia sendiri. Kisah ini mungkin hanya salah satunya, tapi apapun itu. layla dan Qays adalah sebuah legenda. Terlepas dari mereka benar-benar ada atau tidak, karya ini telah mempengaruhi perkembangan sastra dunia. Inilah cerita pertama tentang kasih tak sampai ,,,

Cinta telah mempertemukan Qays dan Layla di pada sebuah kesempatan. Sejak saat itu, mereka terkoyak oleh bara asmara. Terkungkung adat timur tengah yang kuat, kasih mereka tetap terjalin satu sama lain. Tapi, sepasang kekasih yang dimabuk cinta itu terlambat menyadari bahwa di lingkungan mereka, cinta bukan saja tentang dua orang tapi tentang dua keluarga. Dan keluarga Layla tidak pernah merestui cinta mereka. Qays tenggelam dalam luka berdarah-darah, sampai ia kehilangan akal sehatnya. Menjadi si raja hutan, berteman dengan binatang, hingga ia disebut “majnun”, si gila.

Sementara Layla, sebagai perempuan tak banyak yang bisa ia lakukan. Hingga ia menjalani pernikahan paksanya. namun satu yang pasti, tidak ada yang bisa memaksanya berhenti mencintai majnun, dan bahkan ia berhasil mempertahankan keperawanannya sampai mati.

Banyak versi dari cerita ini yang telah berkembang sebagai prosa liris dalam perkembangan sastra arab. Namun versi Nozami Ganjavi adalah versi yang paling terkenal. Ini disebabkan karena Nizami memasukkan unsur-unsur yang membuat cerita semakin menarik. Seperti memasukkan dunia hewan dan renungan ala sufi, juga kemunculan seorang penyair yang mengagumi kisah Layla dan Qays. Selain itu, yang paling penting adalah, Nizami memasukkan nilai-nilai Ilahiah dalam tragedi kasih Tak sampai itu. Seperti kata pepatah “Biar di dunia kasih tak Sampai, Di Akhirat tetap kunantikan”. 

Kelebihan lainnya adalah keindahan bahasanya yang kadang-kadang terkesan magis. Saya bilang magis, karena bahasanya begitu membius. Menerjemahkan dan mengedit karya sastra seperti tentulah sangat berhati-hati agar keunggulannya tetap dapat dinikmati meskipun bukan dalam bahsa aslinya. Sepertinya penerbit Dholpin sangat memperhatikan hal ini, terbukti di tangan awak-awaknya rasa klasik legendaris novel ini tetap terasa. Kita, meskipun hanya membaca dalam bahasa Indonesia bisa menyelami indahnya narasi-narasi manis dari Nizami.

Kolaborasi mas Ali Nur Zaman, selaku penerjemah dan editornya, mas Salahoeddin Gz berhasil mentransfer masterpiece ini ke dalam bahasa Indonesia. Tidak ada yang membantah keindahan bahasa buku ini, jadi saya pikir tak perlu paragraf baru juga untuk menyebutkan kelemahan buku ini. Karena menurut saya memang tidak ada😀.

sepasang kekasih berbaring di pusara ini,

menanti kebangkitan dari rahim kegelapan,

setia dalam perpisahan, setia dalam cinta, sebuah istana menanti mereka di alam sana

About the author :

Nizami Ganjavi (1141-1209) adalah pujangga terbesar dalam kdasanah sastra Persia, dianggap sebagai penulis yang membawa gaya Tutur realistis ke dalam kisah epik Persia. Pengantin surga (judul aslinya Layla o Majnun) adalah karyanya yang paling tersohor. Karyanya yang lain adalah Makhzan Al-Asrar (GUdang Rahasia), Haft Peykar (Tujuh Bidadari), dan Eskandarnameh (Kitab Iskandar).

FYI:

1. Kisah Layla Majnun menjadi tonggak awal tentang kisah-kisah kasih Tak sampai

2. Banyak karya-karya terkenal yang terinspirasi dari kisah ini, antara lain Romeo Juliet (Shakespare), Diwani Syamsi Tabriz (Rumi)

3. Goethe, pujangga terkenal Jerman memuji Nizami berkat karya ini “Roh Agung yang yang berbicara tentang perhelatan termanis dari cinta yang terdalam, itulah Nizami” katanya.

4. Karya ini juga mempengaruhi perkembangan sastra Arab, Barat, India dan Nusantara

5. Indonesia sendiri memiliki banyak roman tentang kasih tak sampai, yang paling terkenal adalah Siti Nurbaya (Marah Roesli)

Bicara tentang kasih tak sampai, jadi ingat sinetron Siti Nurbaya dulu yang ditayangkan TVRI. Theme songnya yang berjudul “Kasiah Tak Sampai” sangat populer saat itu. Bahkan berkali-kali direcycle. Berikut versi terbarunya yang dinyanyikan Ria Amelia, liriknya pas sekali dengan cerita pengantin Surga ini.