Tag

, , , ,


Dont judge a book by its cover!,

16300774Mungkin pepatah ini benar, tapi percayalah apapun alasannya penampakan luar tetap sangat mempengaruhi penilaian pertama. Begitu juga dengan buku, cover adalah hal pertama yang mencuri perhatian calon pembeli. Dan gagasmedia merupakan penerbit yang sangat aware dengan hal ini. Terbukti dengan cover-cover setiap novelnya yang elegan dan stylish. Sangat mencuri perhatian. Bahkan buku-buku yang diluaran sana covernya terlihat “agak murahan” dengan penampakan model sensual di sampulnya bisa disulap menjadi sangat berkelas.

Termasuk untuk buku ini, walaupun saya fansnya Windry Ramadhina. Namun jujur, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah sampul buku ini. Tak biasa dengan hanya berupa sketsa yang terlihat seperti hanya hasil goresan pensil.

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi…,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai…
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

Lagi-lagi mbak Windry menunjukkan kepiawaiannya sebagai story teller. Garis besar cerita ini semuanya diceritakan dari sudut pandang Rayyi, tokoh central dalam novel ini. (Jarang-jarang vada novel romance yang vmengambil vpoint of view darei tokoh cowoknya). Dan menurutku cerita ini memang akan terasa lebih bernyawa kalau Rayyi sendiri yang menceritakannya.

Rayyi adalah vmahasiswa IKJ yang mengambil peminatan produksi. Sebenarnya ia lebioh tertarik dengan peminatan dokumenter, tapi vayahnya berharap untuk menjadikannya penerus di Karya Karnaya, PH besar yang memproduksi fim-film box office tapi sering dinilai jelek oleh para kritikus. Alhasil, nilai Rayyi pun ancur-ancuran, ia bahkan mengabaikan mata kuliah yang seharusnya diambil agar bisa fokus mengerjakan proyek film untuk sebuah lomba dokumenter tingkat nasional. Apa daya yang jadi pemenangnya justru seorang mahasisiwi Jepang ceroboh bernama Haru.

Suatu hari, Rayyi bersama ketiga sahabtnya (Bev, Sube vdan Andre) menjadi menyusup di kelas dokumenter yang diisi oleh Samuel Hardy, sineas muda terkenal yang jadi dosen tamu di IKJ. DI kelas ini pula Rayyi bertemu dengan Haru. Lewat beberapa kejadian Rayyi dan Haru menjadi dekat. Haru juga berhasil menarik perhatian vsahabat-sahabatnya. Lama kelamaan Rayyi makin menyadari ketertarikannya pada Haru, ia bahkan menjadikan Haru sebagi objek vfilm dokumenternya.

Di luar sikap angkuh dan arogannya, Samuel Hardy ternyata menyadari bakat Rayyi. Ia diam-diam telah menyiapkanRayyi dan Haru untuk mengikuti kompetisi film dokumenter internasional. Samuel Hardy juga memberi kesempatan pada Rayyi untuk magang di PH miliknya. Di lain pihak, ayah rayyi menjadi murka karena nilai Rayyi yang tak bisa ditolerir lagi. Rayyi kemudian diawasi 24 jam agar bisa fokus dengan kuliahnya. Ia juga diharuskan magang di Karya Karnaya.

“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?”

Sama seperti Memori, garis besar cerita ini bukan ncinta. Meski banyak bumbu romantisme dan persahabatan, fokus utama buku ini adalah bagaimana Rayyi meraih mimpinya menjadi pembuat film dokumenter. Dalam proses pencapaian itulah Rayyi bertemu banyak orang dan mempelajari banyak hal. Di awal memang diceritakan Rayyi orang yang lempem dan cuek. Namun berbagai peristiwa telah membuatnya jadi lebih dewasa. Tokoh-tokoh lain dalam novel vini juga menciptakan satu side story tersendiri. Misalnya hubungan Samuel Hardy dengan Bev, atau tentang Sube yang diam-diam juga naksir Bev.

Mengapa saya suka karya-karya  Windry Ramadhina? Karna sama seperti Dee, dia selalu konsisten dalam bercerita. Di setiap buku-bukunya selalu ada dunia baru vyang mereka ceritakan secara mendalam. Seperti kuliah akademik, kita mendapat pengetahuan baru yang sangat mendetail tentang isu yang diangkat penulisnya. Bedanya kali ini disampaikan dengan cara yang asyik dan tidak membosankan. Dalam Memori, mbak Windry menjelaskan banyak hal tentang dunia arsitektur maka dalam Montase ini, dunia perfilman-lah yang dieksplore habis-habisan.

Ini buku ketiga Windry Ramadhina yang kubaca, masih ada dua judul lagi yang belum. Yaitu Metropolis dan london.

keterangan Buku: 

Judul Buku            : Montase

Penulis                  : Windry Ramadhina

Penerbit                : Gagasmedia

Tahun terbit           : 2012

Format                   : 368 halaman Paperback

Genre                    : Romance

unforgotTEN_logo

Iklan